Reiki for Those in Their Final Journey
Holding space, easing pain, and bringing peace in life’s final phase
Sebagai seorang praktisi, saya menemukan banyak hal dalam perjalanan memberikan sesi. Salah satu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah kesempatan untuk memberikan Reiki kepada mereka yang berada dalam kondisi sakit keras, bahkan kritis.
Secara teori, Reiki dapat diberikan untuk membantu mengurangi rasa sakit, serta membawa ketenangan. Namun, pengalaman langsung di lapangan memberi pemahaman yang jauh lebih dalam dari sekadar teori.
Dalam beberapa sesi yang saya lakukan, intensi saya sederhana: membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan pasien. Sesi-sesi ini terjadi atas permintaan keluarga, dan terkadang juga merupakan inisiatif saya ketika mengetahui ada seseorang yang sedang berada dalam kondisi kritis.
Pada kondisi seperti ini, saya lebih banyak bekerja mengikuti insting, dipandu oleh proses scanning yang saya rasakan. Menariknya, durasi sesi terasa berbeda dibandingkan sesi pada umumnya. Sensasi yang muncul pun serupa—saya dapat merasakan area ketidaknyamanan yang perlahan berubah menjadi lebih ringan, lebih tenang.
Dalam beberapa sesi jarak jauh, saya bahkan sempat “melihat” wajah pasien yang tersenyum, seolah menunjukkan rasa lega. Ada juga pasien yang kemudian menyampaikan pengalaman mereka, baik secara fisik maupun emosional. Semua itu saya simpan sebagai bentuk penghormatan terhadap proses yang mereka jalani.
Namun, tidak jarang keluarga menanyakan kepada saya, apa yang sebenarnya saya rasakan selama sesi berlangsung.
Pada pengalaman pertama, saya sempat merasakan beban yang cukup berat. Tetapi perasaan itu berubah menjadi lega ketika keluarga menyampaikan bahwa pasien berpulang dalam kondisi yang tenang, bahkan dengan senyuman.
Dari sana saya mulai menyadari bahwa pengalaman ini merupakan bagian dari perjalanan healing saya sendiri—sesuatu yang tidak semua praktisi alami.
Seiring waktu, saya pun memiliki keberanian untuk menawarkan sesi Reiki ketika mengetahui ada orang lain yang berada dalam kondisi serupa. Namun, tidak semua orang menerima—dan itu adalah hal yang sepenuhnya saya pahami dan hormati.
Bagi sebagian orang, Reiki dipahami sebagai metode penyembuhan. Sementara dalam situasi kritis, keluarga mungkin merasa bahwa fase tersebut bukan lagi tentang penyembuhan, melainkan tentang melepaskan.
Saya sendiri meyakini bahwa jika memang ada yang membutuhkan bantuan saya, semesta akan mempermudah jalannya. Karena itu, saya tidak merasa perlu untuk menawarkan secara langsung.
Namun, saya tetap merasa penting untuk membagikan informasi ini—bahwa Reiki juga dapat diberikan pada mereka yang berada di fase kritis, dengan tujuan membantu mengurangi rasa sakit, memberikan ketenangan, serta menguatkan mereka dalam perjalanan akhirnya.
Dan pada akhirnya, apapun pilihan yang diambil oleh keluarga, itu adalah bentuk cinta dan keputusan terbaik yang mereka yakini.
